Smart City adalahSering kita mendengar tentang kota pintar atau Smart City. Namun tahukah kalian apa itu Smart City? Smart City adalah pengembangan perkotaan untuk mengintegrasikan sistem dengan teknologi Internet of Things (IoT). Konsep ini sendiri merupakan upaya-upaya inovatif yang dilakukan ekosistem kota dalam mengatasi berbagai persoalan dan untuk mengelola aset kota. 

Aset ini meliputi sistem informasi instansi pemerintahan lokal, sekolah, perpustakaan, sistem transportasi, rumah sakit,  penegakan hukum, dan pelayanan masyarakat lainnya. Kota cerdas ditujukan dalam hal penggunaan informatika dan teknologi perkotaan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan

Dilansir dari kominfo.go.id kini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menginisiasi penyelenggaraan Gerakan Menuju 100 Smart City. Gerakan tersebut dilakukan bersama  Direktorat Layanan Aplikasi Informatika Pemerintahan (LAIP) dengan Kementerian Dalam Negeri. Lalu bersama juga Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian PUPR, Kantor Staf Presiden, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, dan Kementerian PANRB.

 “Saya melihat Gerakan Menuju 100 Smart City merupakan awal yang baik untuk mewujudkan mimpi bangsa ini menjadi digital nation,” tutur Menteri Kementerian Kominfo, Johnny G. Plate.

Tak hanya mengembangkan Smart City, kini pembangunan Smart Village pun sedang digadang-gadang. Untuk itu beberapa kepala daerah kini berusaha memperluas cakupan inovasi kedua konsep ini. Untuk itu diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku industri. Lalu apa saja sih yang dapat menunjang pembangunan kedua konsep ini?

Enam Pilar Pembangunan Smart City

Dalam membangun Smart City ada enam pilar. Yakni smart governance, smart society, smart living, smart economy, smart environment, dan smart branding. Berikut  adalah penjelasan enam pilar tersebut :

  1. Smart environtment: Menyiapkan kawasan wisata prioritas menjadi kawasan yang bersih, bebas sampah, dan tertib, tanpa meninggalkan unsur tradisionalnya;
  2. Smart economy: Memastikan implementasi TIK dalam proses transaksi (cashless) berlangsung di kawasan wisata prioritas dan pemerintah daerah sekitarnya;
  3. Smart branding: Membantu pemerintah daerah pada kawasan wisata prioritas dalam meningkatkan kunjungan wisata;
  4. Smart government: Memastikan pemerintah daerah pada kawasan wisata prioritas menerapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) secara berkualitas dalam upaya pelayanan publik yang baik;
  5. Smart society: Memastikan masyarakat tujuan wisata prioritas dan kawasan sekitarnya memiliki kapasitas unggul dan mampu menjadi tuan rumah yang baik; dan
  6. Smart living: Mendorong situasi kawasan wisata prioritas yang kondusif dan nyaman bagi masyarakat dan wisatawan, melalui penyediaan transportasi, logistik yang tentram, aman, dan ramah

Pembangunan Smart Village

Sama dengan Smart City, Smart Village pun memiliki 6 pilar pula. Maka untuk mengembangkan smart village guna membangun desa dan kawasan yang cerdas, ada enam hal yang dilakukan, yaitu:

  1. Branding desa: Mengembangkan brand desa sebagai motivasi dengan menciptakan potensi lokal berkelas global;
  2. Hunian sehat: Terwujudnya hunian yang sehat untuk menghasilkan keluarga yang bahagia, sehat, dan cerdas;
  3. Lingkungan sehat: Membangun tata lingkungan desa dan kawasan yang cerdas dan dikelola dengan baik dalam harmoni, merubah bencana menjadi manfaat;
  4. Pemerintah desa cerdas: Membangun sistem penyelenggara administrasi pemerintahan yang cerdas;
  5. Masyarakat cerdas: Pengembangan tata kemasyarakatan yang harmonis, cerdas, guyub, bahagia; dan
  6. Ekonomi cerdas: Tata ekonomi masyarakat desa yang tangguh, cerdas, dan sejahtera. Mengembangkan tatanan ekonomi yang kemasyarakat dan badan usaha yang tangguh.

 

Tak hanya pemerintah saja, dari sisi akademisi dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang bermanfaat untuk mendorong peningkatan kapasitas masyarakat. Sedangkan dari sisi dunia usaha dapat mendorong kolaborasi antar dunia usaha dengan masyarakat. Smart City juga mendorong kerja sama dan pemberdayaan UMKM.

“Dengan demikian akan muncul berbagai peran dan aktivitas yang menghasilkan sebuah atmosfer smart economy bagi suatu daerah yang sangat luar biasa,” tutur Direktur LAIP Bambang Dwi Anggono.

Pria yang kerap disapa Ibeng itu juga mengatakan bahwa pemerintah daerah juga harus punya keberanian mendorong dunia usaha dan masyarakat untuk menggunakan teknologi. Seperti seperti QR code, e-banking,  e-wallet, dan teknologi lainnya.

Dari ulasan di atas, kini adalah saat yang tepat bagi Anda ingin memulai bisnis  berbasis IoT maupun teknologi lain yang menunjang Smart City. Jika anda membutuhkan bantuan dalam memulai bisnis berbasis IoT, Monster Mac siap membantu anda.