Penerapan iot di Indonesia – Internet of Things (IoT) adalah konsep bagaimana seluruh objek-objek fisik dalam kehidupan kita bisa terkoneksi dengan internet. Tidak lagi objek tersebuh berelasi dengan penggunanya tetapi juga dengan objek-objek di sekitarnya dan suatu database data.

IoT, kata Direktur Jenderal Sumber Daya & Perangkat Pos & Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (SDPPI Kemenkominfo) Ismail MT, memiliki tiga unsur inti yaitu sensor, konektivitas, dan ekosistem. Hal ini disampaikan dalam konferensi Asia IoT Business Platform Ke-32 di Jakarta.

Konektivitas dengan IoT

Konektivitas dikatakan bukan menjadi masalah lagi. Proyek Palapa Ring yang telah selesai bulan ini, membuat seluruh ibukota telah terkoneksi dengan pipa fiber optik. Berbagai operator dari Telkom dan perusahaan-perusahaan juga telah menjangkau ke penghujung desa-desa.

“Membicarakan isu konektivitas sudah tidak relevan dibicarakan di Indonesia,” tutur Ismail.

Menurutnya, hal yang paling dibutuhkan di Indonesia adalah kehadiran solusi untuk ekosistem. Indonesia memiliki berbagai bandara, pelabuhan, stasiun kereta, dan tempat komoditas lain yang bagus sehingga tinggal diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan pintar untuk menciptakan solusi IoT di sana.

Solusi yang diberikan juga bukan sembarang solusi tetapi solusi yang khas dan hanya datang dari SDM Indonesia. Hal ini demi bisa menciptakan solusi yang khas, yang sesuai dengan kebutuhan pada berbagai sektor di Indonesia.

“Hal paling krusial yang perlu kita lakukan adalah menciptakan brainware yang siap untuk menciptakan solusi pada IoT. We cannot handle these technologies without digital talents,” pungkas Ismail.

Penerapan Internet of Things

Selain itu, penerapan IoT juga tidak ketinggalan dengan data besar. Pendapatan data oleh penerapan IoT menjadi informasi yang bernilai bagi segala sektor. Data-data kemudian dapat digunakan terutama menjadi pengetahuan sebelum pembangunan dilakukan, evaluasi pembangunan, dan pedoman pengambilan keputusan terutama pada bisnis dan usaha menengah lecil mikro (UMKM). Karena banyaknya data yang bisa didapatkan, dibutuhkan kemampuan tersendiri untuk menganalisa data-data tersebut.

Kemudian Ismail juga menegaskan bagaimana data-data perlu adanya common ground, sebuah wadah yang bisa membuat datanya bisa diakses publik dan berguna untuk berbagai sektor. Tantangan besarnya adalah bagaimana bisa mengklasifikasikan mana data yang bisa rahasia dan mana yang bisa publik untuk pengembangan bisnis dan UMKM.

Baca Juga : Contoh IoT di Peternakan

“Disini pemerintah harus hadir dengan regulasi yang tepat. Bagaimana kepemilikan data diatur sehingga aksesibilitas data itu bisa bermanfaat di semua sektor,” katanya.

Lantas bagaimana dengan pemerintah? Pemerintah di sini berperan sebagai akselerator dan fasilitator. Pemerintah sekarang sedang memperluas kapasitas bandwidth dan memperbolehkan penggunaan frekuensi dengan gratis. Selain itu, pemerintah akan merevisi regulasi untuk sinyal-sinyal seperti bluetooth, internet, dan sebagainya serta merancang regulasi IoT.

Di sisi lain, pemerintah akan bekerka sama dengan asosiasi IoT untuk mendapatkan SDM agar bisa membantu dan mengajarkan pembuatan solusi yang sesuai dengan penerapan IoT di Indonesia.