Smart City atau Kota Pintar erat kaitannya dengan Internet of Things (IoT). Konsep Smart City telah diadopsi oleh beberapa kota besar di Indonesia berkat fungsinya mempermudah kerja masyarakat dan mengubah budaya setempat menjadi lebih efisien.

Konsep Smart City memadukan teknologi informasi dan komunikasi. Pada tahap tertentu, sebuah kota bisa dikatakan sebagai Kota Pintar apabila integrasi keduanya sudah sesuai dalam meningkatkan tata kelola dan kegiatan sehari-hari warganya. Secara garis besar, manfaat konsep ini dapat dirasakan dalam hal penyebaran informasi ke masyarakat, menambah efisiensi, dan meningkatkan mutu layanan publik.

Mustahil mewujudkan konsep Smart City tanpa menerapkan IoT. Piranti IoT berperan dalam mengirimkan informasi berikut tindak lanjutnya via jaringan dengan mengurangi tindakan manusia. Dengan cara ini, IoT dapat mengerjakan banyak tugas secara otomatis.

Hilman Halim dari Solution Architect Ericsson Indonesia mengatakan tiga elemen utama membentuk piranti IoT sehingga bisa bekerja. Ketiganya adalah perangkat fisik, jaringan internet, dan aplikasi. Penyesuaian IoT untuk mewujudkan Kota Pintar dapat terlaksana setelah memenuhi tiga aspek tersebut.

Contoh Penerapan Konsep Smart City

Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang adalah empat kota di Indonesia yang telah menerapkan konsep Kota Pintar. Bahkan Jakarta telah memulainya sejak 2014. Surabaya memakai konsep ini untuk menilang pengendara secara daring.

Contoh penerapan konsep Smart City adalah sebagai berikut:

  1. Pencahayaan cerdas dimana pemerintah setempat bisa mengetahui lampu lalu lintas dan umum yang rusak. Sistem dapat membantu mematikan dan menyalakannya dari jarak jauh.
  2. Parkir cerdas yang mempermudah warga mencari lokasi parkir. Contoh aplikasinya: Smark Parking dan Parkiran.
  3. Pengelolaan sampah untuk memantau volume sampah dari jarak jauh. Cara ini mempermudah kinerja petugas sampah agar hanya mengambil sampah saat sudah penuh.
  4. Pemantauan gorong-gorong agar petugas bisa mengecek kondisi air, kabel, hingga jalur pipa gas dari jarak jauh.
  5. Listrik cerdas yang mempermudah PLN mengetahui data pemakaian listrik pengguna. Sehingga, petugas listrik tidak harus mendatangi rumah pelanggan satu per satu.

Dari lima contoh di atas bisa diketahui bahwa konsep Smart City bisa mengubah kinerja dan perilaku warga. Untuk bagian pengelolaan sampah dan listrik, petugas bisa bekerja lebih efektif sehingga tugas manual di atas bisa dialihkan ke pekerjaan lain yang lebih penting.

Di lain pihak, warga bisa sangat terbantu dengan aplikasi parkir cerdas sehingga bisa merencanakan jam keberangkatan ke suatu tempat dengan lebih baik.

Tantangan penerapan Smart City

Walau demikian, mewujudkan Kota Pintar di Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah bagi seluruh 514 kabupaten/kota. Faktor utamanya adalah harga perangkat yang mahal dan cukup susah didapatkan. Selain itu, belum semua daerah mempunyai infrastruktur yang mumpuni untuk mendukung Kota Cerdas. Belum lagi kapasitas teknis Sumber Daya Manusia yang masih rendah.

Di lain pihak, setiap kepala daerah wajib memberikan pendidikan untuk mempersiapkan seluruh warganya siap menerima perubahan ke arah digitalisasi. Hal ini penting agar mereka bisa memanfaatkan sistem digital dalam layanan publik.  

Pemerintah sendiri telah meluncurkan Gerakan Menuju 100 Smart City yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pelayanan masyarakat dan mempercepat upaya daerah memaksimalkan potensinya.

Gerakan ini menyasar pemerintah daerah yang telah mempersiapkan beragam infrastruktur teknologi informasi, SDM hingga aturan pendukung. Contoh daerah peserta program ini adalah Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, dan Kota Solo.

Baca juga: Smart City Dengan Teknologi IoT, Wujudkan Kota Impian Masa Depan

2021-03-09T03:41:12+00:00March 9th, 2021|
Go to Top